Posted by: gurulesku on: June 27, 2008
Pilih Belajar Kelompok atau Bimbingan Belajar?
Mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional, parasiswa pun perlu memperdalam penguasaan materi pelajaran.
Ujian nasional makin mendekat. Kamu-kamu yang duduk di bangku kelas 3, tentu perlu mempersiapkan diri siap menghadapinya, kan? Seperti yang kamu sudah sadari, persiapan ini penting karena akan menentukan perjalanan pendidikan kamu di masa depan. Tentu kamu akan berpacu dengan lebih giat belajar. Tujuannya, jelas, tidak sekadar ingin lulus ujian, tapi juga meraih nilai terbaik.
Nah, ada pepatah yang mengatakan ‘banyak jalan menuju Roma’. Banyak cara yang dapat kamu lakukan untuk bisa lulus ujian dan memperoleh nilai memuaskan. Kamu bisa menempuhnya dengan mengikuti bimbingan belajar (bimbel), bisa pula dengan cara belajar berkelompok. Apa kelebihan dan kekurangan belajar berkelompok? Bagaimana pula dengan ikut bimbel?
Bermain
Ada yang beranggapan, belajar kelompok kerap tidak efektif. Waktu lebih banyak digunakan dengan bercanda dan bermain, sehingga waktu belajarnya menjadi terbatas. Anggapan seperti diutarakan oleh Takdir, siswa kelas 3 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bunda Kandung, Jakarta.
Menurut dia, belajar kelompok kurang efektif karena biasanya kebanyakan ngobrol-nya daripada belajarnya. Maklum, menurut dia, anggota kelompok selain sebaya, juga teman-teman sendiri. ”Jadi, biasanya lebih banyak main-mainnya,” kata Takdir.
Hal senada dikemukakan Akbar, seorang siswa SMA lainnya di bilangan Jakarta Selatan. Akbar mengatakan belajar kelompok kadang-kadang menjadi kurang efektif karena lebih banyak waktu yang terbuang dengan bercanda. Bahan candaan, biasanya mengulangi candaan yang biasa dilakukan saat di sekolah.
Apa yang dirasakan Takdir dan Akbar, berbeda dengan yang dialami oleh Muhammad Maulana Faqih. Bagi siswa kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 62 Jakarta ini, belajar kelompok menjadi efektif untuk lebih mudah memahami pelajaran. ”Karena belajarnya sesama teman, jadi tidak tegang,” tuturnya.
Terhadap anggapan bahwa belajar kelompok lebih banyak bermainnya, Faqih tidak menyangkalinya. Dia mengakui di dalam belajar kelompok, bercanda dan bermain dengan anggota kelompok tidak bisa dihindari. Namanya juga sesama teman, itu menjadi hal yang lumrah. Namun, menurut dia, unsur bermain dan bercanda dalam belajar kelompok masih bisa diatasi. Yang penting, ada pengendalian diri dari semua anggota kelompok. ”Biasanya ada salah satu yang mengingatkan untuk kembali belajar,” tuturnya.
Biasanya, kata Faqih, belajar kelompok diikuti sekitar 10 orang. Tempat belajar dilakukan di rumah salah seorang teman. Tempat itu biasanya tidak tetap, melainkan berpindah dari satu rumah ke rumah teman yang lain. Jadi, tergantung kesepakatan. Dalam belajar kelompok, siswa yang mahir pada satu pelajaran diminta menjadi pengajar.
Bagaimana dengan bimbel? Menurut Faqih, Takdir, dan Akbar bimbel bisa lebih bagus dari belajar kelompok. Karena harus bayar biaya bimbel, maka, belajarnya juag menjadi serius. Karenanya, kata Faqih, ”Belajar kelompok lebih murah.”
Takdir mengakui cara belajar dalam bimbel dapat mempercepat memahami pelajaran dan menjawab soal-soal. Meski belum ikut bimbel, namun dia mengatakan, ”Cara mengajar dalam bimbel lebih bagus, sehingga pelajaran cepat dimengerti.”
Seperti juga Takdir, Akbar pun mengatakan ikut bimbel dapat memperlancar dalam menyelesaikan soal-soal pelajaran. Hanya, Akbar pun belum berniat ikut bimbel karena keterbatasan dana. Akbar, agaknya, lebih realistis. Ia berusaha memahami keterbatasan kemampuan orangtuanya.
Pendalaman materi
Toh, tidak ikut bimbel bukan berarti tidak ada upaya lain yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian nasional. Sebagaimana lazimnya, para siswa yang duduk di kelas akhir selalu mendapatkan tambahan pelajaran di sekolah. Yakni, dengan pendalaman materi pelajaran, baik yang diberikan oleh guru di sekolah maupun dengan mendatangkan pengajar dari luar sekolah.
Di SMK Bunda Kandung, misalnya. Di sekolah ini, kata Takdir, diselenggarakan pendalaman materi untuk pelajaran-pelajaran yang akan diujikan dalam ujian nasional. Pendalaman materi diberikan khusus untuk siswa kelas 3. ”Gratis,” ucapnya.
Selain itu, kata Takdir, masih ada tambahan pendalaman materi pelajaran di luar sekolah. Kebetulan, lanjut Takdir, sekolahnya memperoleh penghargaan dari sebuah perguruan tinggi sehingga anak didik di sekolah ini diberikan kesempatan mengikuti pendalaman materi dua kali sepekan di kampus perguruan tinggi tersebut.
Pendalaman di luar sekolah, kata dia, lebih mempertajam pendalaman yang dilakukan di sekolah. Pendalaman materi diberikan oleh mahasiswa di perguruan tinggi itu. ”Karena sekolah kita dapat penghargaan, jadi pendalamannya gratis,” tuturnya.
Hal serupa juga dilakukan di SMAN 62. Pendalaman materi, kata Faqih, diberikan oleh guru, diselenggarakan tiga sekali seminggu saat pulang sekolah. Tapi, cara ini dianggap kurang efektif karena diadakan seusai siswa mengikuti pelajaran di sekolah.
Mungkin karena itulah, para siswa yang duduk di kelas akhir seperti Faqih, Takdir, dan Akbar masih merasa perlu lebih memperdalam lagi dengan belajar kelompok atau ikut bimbel untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian nasional. n bur republikaonline